IBU
Lembayung senja menghias cakrawala penuh pesona dan keindahan,
Sang bayu meniupkan sajak-sajak cinta penuh kebahagiaan,
Dermaga tua jadi saksi bisu, semangatmu menerjang waktu,
Hingga langit bertabur bintang bagai butiran mutiara,
raja malam pun menghadirkan pesonanya,
kau tetap berusaha penuh gairah,
demi anakmu tercinta,
kaulah titian keluarga
Siluet wajahmu hadirkan senyuman
Kau lah bunga desaku wahai ibu…
Interpretasi :
Puisi tentang kegigihan seorang ibu untuk dapat menghadirkan senyuman dengan bekerja di sebuah dermaga,
“Dermaga tua jadi saksi bisu, semangatmu menerjang waktu”
Walau harus bekerja hingga larut malam,
“Hingga langit bertabur bintang bagai butiran mutiara,
raja malam pun menghadirkan pesonanya,”
dia tetap bekerja penuh semangat demi keluarga yang dicintainya.
“kau tetap berusaha penuh gairah, // demi anakmu tercinta, // kaulah titian keluarga”
Atas usahanya itu, sang ibu disanjung oleh anaknya,
“Siluet wajahmu hadirkan senyuman // Kau lah bunga desaku wahai ibu…”
Bentuk puisi dibuat seperti bentuk cangkir. Hal itu bermakna sebuah persembahan seorang anak pada ibunya atas segala kerja kerasnya untuk menghadirkan senyuman di keluarganya. Secangkir teh hangat tuk mengembalikan tenaganya yang telah terkuras.